saya tahu, sudah lama saya tidak benar-benar berusaha berbicara pada-Mu selain melalui lima doa dalam satu hari yang mungkin tidak lebih dari rutinitas belaka.
tapi saya dan Engkau tahu, satu orang nun jauh disana—yang bahkan tidak dapat melihat langit yang serupa dengan saya—lebih sering memanjatkan doanya pada-Mu untuk kebaikan saya daripada untuk kebaikannya sendiri.
lalu saya, juga Engkau, bukankah kita sama-sama tahu? bahwa bukannya saya tidak ingin balas mendoakan yang terbaik untuknya, tetapi bahwa yang terbaik baginya adalah memang apabila saya mendapatkan yang terbaik bagi saya.
dan Engkau juga Maha Mengetahui bahwa meskipun sangat menjunjung tinggi nilai kebaikan, saya masih terkatung-katung mencari arti kebenaran sejati yang saya rangkum sendiri melalui pengalaman-pengalaman abadi.
maka wajarlah apabila Engkau, sebagai suatu Kebenaran Sejati, tidak ingin memudahkan segala sesuatunya untuk mengabulkan doa-doa saya. ya, Engkau tidak perlu melakukannya. saya tahu, saya pantas mendapat ganjaran, dan saya menerima bahwa saya harus berusaha lebih keras meraih mimpi saya sendiri.
tetapi, Tuhan, kita berdua sama-sama tahu, bukan? bahwa doanya untuk saya dan doa saya untuk diri saya sendiri terkadang merupakan dua buah mimpi yang berbeda.
… maka kabulkanlah doanya, Tuhan. buatlah mimpinya menjadi mimpi saya juga. buatlah mimpi kami berdua menjadi selaras satu dengan yang lainnya. karena kebahagiaan saya adalah hal yang paling membahagiakannya.
…
terima kasih untuk eksistensinya, Tuhan. dan juga untuk eksistensi saya sebagai konsekuensinya. :)